Jelang Gathnas 4 Solo (Bagian II): Upaya Kenalkan Kembali Budaya Jawa

PEMILIHAN tema ‘Bedoyo’ atau ‘Bedhaya’ yang berarti penari wanita istana pada merchandise Zippo Gathering Nasional 4 Zigath Zippo Club Indonesia di Solo, 24-25 Agustus mendatang, bukan tanpa alasan. Ada sejumlah hal yang mendasari pemilihan tema tersebut.

“Alasan utamanya tentu saja adalah untuk mengangkat budaya dan tradisi Indonesia,” papar Ketua Zigath Solo Alhine Nalagnie.

Apalagi, Indonesia kaya ragam budaya dan setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing. Demikian pula dengan tema yang diusung, menjadi bagian dari upaya Zigath Solo untuk ikut melestarikan dan mengenalkan budaya Jawa.

Upaya mengenalkan tema budaya maupun fauna khas nusantara, juga pernah diusung dalam Gathnas 1 Semarang (Borobudur), Gathnas 2 Depok (Komodo) dan Gathnas 3 Malang (Reog).

Pria yang biasa disapa Wilis itu menambahkan, Tari Bedoyo merupakan tarian yang dianggap sakral dan menduduki posisi tertinggi. Sebab, tidak semua orang boleh menarikan, bahkan menyaksikan tarian tersebut.

Demikan dengan makna yang terkandung dalam tarian tersebut yang sangat kompleks. Karena, ada nilai-nilai luhur yang menjadi falsafah hidup orang Jawa.

Karena, segala sesuatu terjadi atas kuasa Sang Pencipta. Selain itu, Tari Bedoyo juga merupakan sebuah perlambang doa. Dimana pada akhirnya semua akan kembali pada Sang Pencipta.

“Mau kemana setelah kita mati? Apa yang sudah kita berikan kepada orang lain di sekitar kita, kepada alam dan kepada Tuhan? Ini bukan semata-mata sebuah tarian, akan tetapi merupakan sebuah doa,” jelasnya.

Karenanya, Zigath Solo berupaya untuk mengenalkan dan kembali mengingatkan ‘Bedoyo’ kepada para penggemar Zippo di tanah air. Yakni melalui merchandise Zippo serta kaos gathnas.

Ketat
Sementara, anggota Zigath Solo Tjiep Hadi mengatakan, Tari Bedoyo hanya bisa dipentaskan pada saat-saat tertentu, seperti penobatan atau peringatan naik tahta.

“Karena ini tarian sakral, tidak boleh ditarikan oleh sembarang orang, ada syarat yang ketat bagi penari dan hanya bisa dipentaskan di keraton,” ucapnya.

Dari berbagai sumber juga diketahui bahwa tarian tersebut diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang memerintah Kesultanan Mataram pada tahun 1613-1645. Suatu ketika, Sultan Agung seperti mendengar senandung dari arah langit atau tawang pada saat dirinya tengah melaksanakan ritual semedi.

Usai melaksanakan ritual, Sultan Agung yang terkesima dengan senandung itu lalu memanggil empat orang pengiringnya. Yaitu Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap.

Kemudian, Sultan Agung mengutarakan apa yang dialaminya. Terinspirasi oleh apa yang dialaminya, lalu Sultan Agung menciptakan sebuah tarian yang kemudian diberi nama Bedhaya Ketawang.

Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Pakubuwana III bersama Hamengkubuwana I melakukan pembagian harta warisan Kesultanan Mataram. Sebagian menjadi milik Kasunanan Surakarta dan sebagian lainnya menjadi milik Kesultanan Yogyakarta.

Pada akhirnya, Tari Bedhaya Ketawang menjadi milik Kasunanan Surakarta. Dalam perkembangannya, sampai sekarang Tari Bedhaya Ketawang masih tetap dipertunjukkan saat penobatan dan upacara peringatan kenaikan tahta Sunan Surakarta.(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.